Category: Puisi-puisi ku


CerPen gw…

“Menikah adalah satu perkara, dan djodohkan adalah perkara yang lain. Menikah adalah sunnah Rasulullah, tetapi dijodohkan bukan sunnah siapa-siapa.”

Sebut saja gadis itu bernama Lahfah, seorang yang masih penasaran akan kompleksitas dunia, putri pengusaha katakanlah namanya muh. Nibras Zain, seorang pengusaha di jakarta. Ia masih menyelesaikan

pendidikan SD3 kebidanan di Indonesia. Ia tak habis pikir, mengapa orang tuanya tiba-tiba menjodohkan dirinya dengan Daku, Sahabat karib ayah Lahfah sewaktu memulai karir’y di Kalimantan. Dan ia tidak

dapat membayangkan, bagaimana kelak ia harus tidur sekamar dengan pria asing yang sama sekali tak dicintainya itu.

Hai Lahfah, kata Ayah’y, kau adalah gadis yang baik. Dunia akan menyanyikan simfoni kebahagiaan bila kamu dan Daku saling bersanding membina rumah tangga.
Dunia yang mana?
Duniaku kah? Dunia ini kah? Dunia mereka kah?
Bagaimana mungkin simfoni indah terdengar ketika yang melagukannya adalah orang yang tidak suka terhadapnya?

“Aku tidak ingin punya suami yang menikahiku hanya untuk memenuhi janji Ayah ku dengan sahabat karibnya dulu, meneruskan almamaterku. Aku tidak ingin menikah dengan lelaki yang menikahiku karena ia

menginginkanku dan ayahku telah berjanji terhadap keluarganya, bagaimana dengan hati lahfah? Apakah tidak punya hak untuk memilih?,” begitu sanggahan lahfah ketika ayahnya mencoba menengahinya,

bahwa cinta itu bisa dipelajari. Bahwa kita bisa belajar mencintai. Cinta itu butuh proses. Bahwa “cinta pertama” adalah nafsu, bukan cinta kasih sayang.

Ah, tahu apa lahfa soal cinta?
“Lahfah tak pernah mengerti, kenapa Ayah tega menjodohkannya dengan lelaki yang tak dia kenal, kenapa Ayah tidak pernah berfikir bahwa lahfah sudah dewasa, lahfah sudah bisa memilih takdirnya

sendiri,” tangisnya dlm hati.

“Haruskah lahfa pura-pura mencintainya, menerimanya sepenuh hatinya, pura-pura merasa bahagia hidup dengannya? Padahal lahfah ingin menjdi dirinya sendiri. Padahal aku ingin Ayah memahamiku,

mengerti keinginanku,” tambahnya. Mengambang. Pertanyaan yang tak butuh jawaban. Melihat itu Lahfah hanya bisa diam.

Dan tiba-tiba Lahfah teringat sebuah potongan paragraph, entah di mana Lahfah pernah membacanya, bahwa untuk terlihat bijak, seseorang kadang memang harus bersikap hipokrit. Tapi sampai kapan ia

harus hidup dalam bayang-bayang kemunafikan? Haruskah ia dengan rela membiarkan segala penderitaan ditanggung sendiri di dalam hatinya, di dalam batinnya? Haruskah ia berkeyakinan bahwa sikap

nrimo pada “sabda” orang tuanya, meski jiwanya meronta-ronta, niscaya akan ada balasannya yang lebih baik di akhirat kelak?

Yang pasti lahfah terjebak dalam paradigma “kesadaran kritis”, karena ia terjepit dalam dunia imajinasi . Sebagai kejutan lahfah tidak tahu bagimana harus keluar atau berdiam dalam posisi itu mungkin pilihan

bijak.

Tapi jodoh bukan karena cinta, melainkan karena takdir. Begitu Teman’y berujar bijak. Entahlah, antara bijak dan sikap nrimo terkadang susah di bedakan.

Kadang LAhfah berfikir, barangkali kebahagiaan yang kita mimpi-mimpikan dalam hidup adalah fatamorgana. Semu. Hanya sebuah ilusi dan fantasi. Bahwa idealisme dan realisme selalu berdiri tegak secara

diametris. Pada ranah ini, vitalisme dan nihilisme ala Nietzche, sang filsuf proklamator kematian Tuhan itu, membuka ruang kesdaran kita untuk kemudian merenungkannya dalam-dalam. Bahwa kita tidak benar

-benar ada. Bahwa kehidupan adalah kematian. Biasanya, pada situasi seperti ini, Lahfah kemudian teringat pada heroisme sang Samurai dalam film The Last Samurai, meski pada akhirnya apa yang ia

imipikan hanyalah utopia belaka.

Suatu ketika, pada suatu babak akhir “perjuangan” di medan pertempuran, ketika ia hanya tinggal berdua dengan temannya, ia melihat dengan pandangan nanar betapa prajurit-prajurit bergelimpangan

merenggang nyawa. Darah merah tumpah ruah. Jauh di keliling mereka, pasukan musuh telah mengepung dengan bendera berkibar. Api telah meninggalkan arang. Perang selalu menyisakan lara. Ia sadar

sesadar-sadarnya bahwa perjuangan tetaplah perjuangan, bahwa kehidupan adalah ketiadaan. “Apakah kau yakin manusia mampu mengalahkan takdirnya?. Mungkin perkataan Teman’y tentang “jodoh bukan

karena cinta, melainkan karena takdir” ada benarnya……..

lahfa ingin teriak, mengungkapkn semua k inginan’y, tapi apa dia hanya seorang anak yg hanya ingin berbakti kepada kedua orang tuanya.
walaupun berat lahfah hanya menjalninya tanpa rasa sayang.
kini perjodohan itu tlah hampir 3 tahun tetapi lahfah hanya bisa diam dan menjalaninya seorang diri.
lahfah gadis cantik yang hidupnya tidak bisa memilih.
“mungkin benar semua yg di katakn teman ku, jodoh adalah takdir .”dalam hati lahfa berucap.

lahfa menemukan sosok pria yg awalny bukan siapa-siapa di hati’y’ sebut saja nama’y “Anugrah”.
mahasiwa di salah satu perguruan tinggi swasta di tempat yang berbeda & ia merupakan teman lahfah sewaktu sma dulu.
Anugrah yg dulu bukan siapa-siapa di hati lahfah, cwo yg Jutek yg dulu lahfah kenal dan Kini anugrah ialah sosok yg lahfah sayangi.
Anugrah cwo yg telah membuat lahfah merasakan rasa sayang lagi di dalam hidup’y.
” anugrah ya! ” sapa Lahfah kpd anugrah.
” iya’ pa kabar km ?, dah lama ya Qt gk ktemu ? ” tanya anugrah saat awal brtemu.
” Baik, km pa kabar ? skrng km Kuliah dmn ? ” kata lahfah. ” aq baik-baik, skrng aq kuliah di GUNDAR.” jwb anugrah kpd lahfah.

awal mereka bertemu diawali ada nya rasa ketertarikan didiri anugrah kepada lahfah. Cinta pada pandangan pertama anugrah kepada lahfah.
Cinta pada pandangan pertama memang indah, seperti kisah cinta bung karno dengan Hartini yg akhirnya menyatukan mereka dlm ikatan cinta.
begitu juga yg terjadi pada anugrah, cinta telah membius dia hingga mencitai lahfa saat pertama bertemu.

kini hari-hari anugrah kan terisi oleh kehadiran lahfah. hari itu dmana dimulai kisah baru, kisah anugrah dan lahfah.

?????

ikhlas atau Terpaksa????????

yg ku tau hanya, ku ingin kau tersenyum…..

aku amarah mu,,,,

aku emosi mu,,,,

aku teriak mu…….

kini ku pergi adalah bahagia mu senyum mu bahagiaku……

tawa mu ceria ku………

walau bukan karna aku…….

kini ku bahagia memandang senyum d wajah mu….

senyum itu ku lihat walau dr k jauhan…….

namun tetap indah……..

untitled

saat ini ku diam……

bukan rasa cinta mu yg ku takutkn………

bukan rasa cinta mu yg sangat ku inginkn….

yg mMbuat ku takut ialah rasa cinta yg ku miliki untuk mu hilang…..

yg ku ingini ialah rasa cinta untuk mu ada…..

ku tak mrasakn rasa itu….

ku tlah lupa rasa itu…..

sikap mu mmbuat rasa itu benar2 hilang…..

aku disini mncoba mncari rasa yg tlah hilang itu……

Tolong bantu aku,,,, menemukan rasa itu lagi….

jgn kau hilangkn pandangan ku akan rasa itu……..

dengan sikap mu

Jujur senyum ku

Sebuah kejujuran datang telat setelah kebohongan ….

Ku hargai kejujuran itu wlau stelah kebohongan ada..

Aku disni bukan mencari kejujuran tapi aku disini menunggu kejujuran….

Aku tak memaksa kejujuran itu datang untuk ku…

Aku jg tak ingin kebohongan itu ada lg…..

Aku dan kejujuran akan trus ada untuk kebahgiaan…

Kejujuran tak kan menyakiti wlau kejujuran itu memang sakit….

Jujur tapi sakit atau bohong tp sakit ????????

Aku memilih jujur tp sakit…. krn aku bisa trsenyum oleh’ny…

Aku kejujuran yang membuat kepercayaan itu ada….

Jujur senyum ku…;.

menangis,,, menangis……….
apa guna’y,,,,,,

apa dia peduli ??????
apa dia berat ngelepas semua…????

dia gak berat ngelepas smua,,,,,,,,,,,,,,,,
apa slama ini… apa arti selama ini………
gak ada arti’y di mata dia …

tp disini berat nahan semua sendirian….
s’andai’y dulu gak knal semua ini…
s’andai’y dari awal semua ini gak ada….

 

ingin ku teriak sekencang-kencangny ….

ingin ku katakan kpda semua yg ada….

bahwa aku tak bodoh……..

 

namun disini kuhanya bisa terdiam sendiri dalam sepi….

Apa sih yg kalian pikirin saat ini ????

Apa kebahgiaan kalian lebih penting dr pada kbahagiaan org lain ???

Kalian pernah bilang !!!

Gak mau nyakitin k 2 org tua n org2 yg lain….

Apa itu dari hati kalian…….

knapa selalu memikirkan kbahagiaan, kesenangan diri sendiri…

Apa guna kata2 yg kalian ucapkan …..

Egois…..
sebenar’y kalian hanya memikirkan kbahagian diri kalian walaupun harus mngorbankan Org lain yg kalian tidak knal….

Apa selama ini yg kalian ucapkan hanya sesaat……

Aku disni hanya bisa terdiam, menangis, merenung apa salah diri ku dan mereka yg kau sakiti demi kebahagiaan diri mu??????

Aku sudah terbiasa tersakiti, tp aku mohon jangan ada Aku,, Aku lain’y…

Yang kau perlakukan seperti ini…

Aku mOhon dengan sangat,,,,,….

cukup aku disini yg menangis….

Kini Ku Lihat saudara ku Trkapar d tengah reruntuhan gedung….
ku hanya dapat berDoa untuk mereka disana…
aku tak kuat melihat mereka yg Trpukul Oleh dahsyat’y kekuasaan ALLAH SWT.
Aku tak sanggup menahan air MAta ini…..
ku panjat kn doa untuk keselamatan saudara ku…….
Saudara Ku, aku disini Melihat Mu…….
Trus Semangad UNtuk Mlanjutkan semuany…..

 

Kami disini Siap membantu Untuk Mu……
Bencana Bukan sebuah Kesalahan……..
Bencana Sebuah Ujian yg Banyak terdapat KeBaikan didalamny…

saudara ku hentikan Air mata, lalu Mari kita Tegapkn badan dan Terus berJuang…..

MAri saudaraku bantu mereka disana yg saat Ini sedang MenangIs….
bantu mereka untuk berdiri……..

( untuk mu dari ku Saudara Mu )

Untuk Dewi ku..

saat ini ku ingin memeluk mu erat….

mengucapkn semua kata maaf yg ingin ku ucap…..

ku tau kata itu tdak dapat menyembuhkn luka yg ter ucap dari bibir ini……..

maaf bibir ini hanya membuat semua hati mu trluka….

maaf marah ini hanya emosi yg membuat ku menyesal akhirny…..

andai saat marah aku mmikirkn semua akibat’y……

tapi marah ini hanya setan yg singgah di pikir ku….

aku tak tau,,, bgaimana membuat marah ini reda…..

aku egois… aku pemarah… aku pencemburu….

trima aku apa ada’y ??? atau kau buang aku jauh di dasar kegelapan tanpa mu….???

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.